Haruhiro dan Kegundahannya Sebagai Pemimpin

Belakangan ini, aku kegirangan baca light novel Grimgar (Hai to Gensou no Grimgar) terjemahan bahasa Indonesia — padahal tugas kuliah belum kelar, hadeh. Meskipun, ini adalah terjemahan penggemar, aku akui bahwa hasilnya mantap, menyentuh, dan lebih cair, terutama di bagian lawak dan juga monolog dari inner Haruhiro.

Tim Haruhiro
Hai to Gensou no Grimgar / Ao Jyumonji / Overlap Bunko

Bagi yang penasaran tentang sinopsis dari Grimgar bisa cari tahu sendiri, atau aku sarankan buat nonton adaptasi animenya yang rilis tahun 2016 silam. Bagus, menurutku. Apalagi lagu-lagu yang dibawakan band (K)NoW_NAME sangat pas mengiringi setiap momen yang ada.

Kali ini, aku akan fokuskan ke karakter utama dari seri ini, yakni si Haruhiro. Kalau kalian lihat gambar di atas, cowok yang menoleh ke belakang itulah yang namanya Haruhiro. Di samping kirinya ada Ranta, lalu di sebelah kanannya, secara berurutan, ada Mary, Shihoru, Yume, dan Moguzo. Ngomong-omong, karakter cewek favoritku adalah Shihoru.

Oke, jadi kisahnya, Haruhiro ini seorang thief alias pencuri. Sebenarnya, istilah thief ini mengacu pada sekelompok orang yang tergabung dalam gilda pencuri, dan keahlian-keahlian yang diajarkan pun bukan untuk nyolong (walau ada yang memanfaakannya untuk itu), melainkan untuk melawan monster-monster yang ada di dunia Grimgar. Haruhiro dan party-nya memburu monster untuk diambil itemnya agar bisa dijual. Dengan kata lain, memburu monster adalah mata pencaharian mereka, meski dapat dikatakan sebagian besar manusia yang ada di Grimgar memang melakukan pekerjaan ini. Pekerjaan memburu monster ini dilakukan dalam sebuah kelompok yang anggotanya terdiri dari berbagai macam peran supaya saling melengkapi. Di tim Haruhiro sendiri ada dirinya sebagai seorang thief sekaligus pemimpin, ada Ranta, cowok bermulut pedas sebagai dread knight, ada Mary, gadis anggun sebagai seorang priestess dan healer, ada Shihoru, gadis kikuk dan pemalu sebagai seorang mage, ada Yume, seorang gadis ceria dan energik sebagai hunter. Sebenarnya, ada Moguzo juga, cowok berbadan besar sebagai seorang warrior, tapi karena suatu alasan, tidak aku sertakan. Silakan cari tahu sendiri.

Dengan kepribadiannya yang pesimis dan peragu, Haruhiro harus mengemban tugas sebagai pemimpin dalam keadaan yang paling tidak menguntungkan. Teman-temannya dan tentu saja dirinya sendiri, diperkirakan merupakan tim rendahan di antara seluruh party yang ada. Hari-hari mereka dihabiskan untuk memburu monster, mengambil item, lalu menjualnya kemudian membagi jatah pendapatan hari itu secara merata. Cukup menyedihkan jika kalian tahu berapa uang yang mereka dapat per harinya, mungkin jika dikonversikan ke rupiah ya sekitar 80–90 ribu, setara UMR Kota Semarang. Aku pikir itu tidak sebanding jika mempertimbangkan bahwa mereka berenam mempertaruhkan nyawa untuk bisa mendapatkan uang. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan yang tersisa di Grimgar hanyalah itu, semisal mereka ingin beralih menjadi pedagang, modal yang dimiliki tidak pernah cukup dan risikonya terlalu tinggi. Jadi ya memang tidak ada kesempatan untuk alih pekerjaan.

Sebuah party tentu saja bukan hanya diikat oleh urusan pekerjaan, melainkan juga ikatan emosional karena di sana seseorang menemukan sarana untuk bertahan hidup. Ada saat-saat di mana Haruhiro harus trauma karena rekan setimnya mati, ada momen di mana ia merasa frustrasi karena siasat yang disusun telah kacau, atau rasa putus asa ketika hampir semua temannya telah ambruk.

“Kenapa kalian melihat ke arahku? Ah, iya. Aku pemimpinnya. Tapi, tolong hentikan. Aku sudah muak, aku ingin berhenti dari tanggung jawab ini. Maaf, teman-teman, aku tidak cukup baik menjadi pemimpin party. Ya, mungkin aku akan mengatakan itu sekarang juga.” Haruhiro tidak bisa mengatakan itu. Jika iya, suasana akan semakin keruh. Itu tidak baik, sebab mereka masih di tengah pertempuran.

Ya, keinginan untuk membuang tanggung jawab itu sering kali muncul dalam diri Haruhiro meski selalu urung ia utarakan niatnya itu, atau lebih tepatnya, ia sudah sadar kembali akan tanggung jawabnya.

Selain momen menegangkan di tengah pertempuran, Haruhiro tidak jarang juga harus menangani situasi canggung dalam timnya. Entah itu karena Ranta yang selalu mengatakan lelucon cabul atau mungkin karena inisiatifnya sendiri yang berujung pada rasa malu.

Karena ulah Ranta, perjalanan mereka dipenuhi kesunyian dan rasa canggung. Untuk mencairkan suasana, Haruhiro mencoba untuk membuat ekspresi gembira ketika mengirimkan komando pada rekaan-rekannya dengan suara nyaring dan ceria. Yume, Shihoru, dan Mary hanya menatap keheranan pada Haruhiro, sedangkan Ranta, seperti biasa, mengomel dengan argumen yang tidak jelas. Saat itu juga Haruhiro merasa ingin membenamkan dirinya ke dalam tanah.

Walaupun begitu, Haruhiro bukanlah sosok pemimpin yang merasa cukup dengan keadaan dirinya yang menurutnya menyedihkan. Melihat party lain berkembang dengan pesat, ada tekad untuk berubah dalam dirinya. Ya, setidaknya ada sosok Mary, gadis yang ia sukai, yang menjadi motivasi bagi Haruhiro untuk menjadi lebih baik. Ada pula Yume yang selalu optimis dan semangat sehingga tanpa Yume, tim Haruhiro hanyalah kumpulan orang suram. Shihoru juga bukan lagi gadis penakut, Haruhiro bahkan mengakui bahwa gadis itu adalah second-in-command dalam tim ini, kemampuan pengamatannya sangat baik. Untuk Ranta, dia menyebalkan seperti biasanya, tidak banyak hal lain yang bisa dilakukannya selain membual dan meneriakkan nama jurus yang aneh ketika hendak membunuh monster.

--

--

Language and tech junkies, sometimes review somethings.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Arya Rahmadi

Arya Rahmadi

Language and tech junkies, sometimes review somethings.