Dunia Di Mana Kesemek Tumbuh Subur

Bab 1: Pertaruhan

Buah kesemek itu jatuh dan menggelinding di bawah kaki Pringgo. Pringgo memungut buah yang jatuh tadi. Tidak rusak. Keranjang gendong yang dibawanya tidak terlalu besar sehingga dua puluh satu buah kesemek sudah memenuhinya.

Mereka berdua, Pringgo dan kawannya, Yayan, diutus oleh orang tua masing-masing untuk mengumpulkan buah kesemek guna dijadikan pelengkap dalam ritual syukuran desa esok hari.

Ngomong-omong, ritual syukuran itu biasa diadakan setahun sekali ketika pohon kesemek berbuah lebat. Kamu bisa membayangkan tepat setelah matahari terbenam, para penduduk desa akan berkumpul di balai desa yang cukup luas, kemudian seseorang yang disebut "Yadri" akan membakar tumpukan kayu kering sehingga menjadi api unggun, lalu ia membacakan mantera-mantera dalam bahasa yang tidak kamu mengerti sementara di sisi lain ada para sesepuh dan orang dewasa menangkupkan tangannya, para remaja yang ikut-ikutan berdoa sambil mencuri-curi pandang ke orang yang disukainya, dan anak-anak kecil yang bermacam-macam tingkahnya.

Soal yadri, dia semacam pemuka agama di desa ini. Menurut pembicaraan orang dewasa, yadri diberi tugas menjaga pusaka suci berwujud kitab yang konon dikeramatkan dan hanya dapat dipelajari dan dimengerti oleh yadri dan calon penggantinya. Itu karena seorang yadri akan bertugas sampai ia meninggal dan kemudian kedudukannya akan digantikan oleh seseorang yang telah dididiknya. Siapa yang akan menggantikan yadri yang sudah meninggal, penduduk desa sama sekali tidak mengetahui orangnya. Konon, murid atau calon yadri masa depan diberikan pendidikan secara rahasia, di tempat yang rahasia oleh yadri itu sendiri. Jadi si murid itu akan menampakkan dirinya ke khalayak ketika gurunya sudah wafat dan ia resmi menjadi yadri.

"Yan, lusa mau pergi ke Hutan Selatan bareng aku?" ujar Pringgo.

"Mau 'ngapain?" tanya Yayan balik.

"Cuma kepikiran cerita Mas Bah kemarin, kamu tahu sendiri 'kan kita belum pernah keluar desa sama sekali."

Yayan mengerutkan alisnya, "Ya, soalnya di luar desa ini nggak aman. Ingat 'kan kata sesepuh, semua tempat di luar desa itu habitatnya danawa. Manusia macam kita cuma bakal jadi santapan kalau ketemu mereka.

"Iya, iya. Dari kecil aku dengar mitos itu melulu. Bosan dengarnya." Pringgo merengut.

"Untungnya, di sekeliling desa sudah dipasang jimat. Bersyukur banget ya."

Pringgo bermuka kecut, ia memahami sifat kawannya yang selalu berpikir positif ini.

"Kata Mas Bah," Pringgo melanjutkan ceritanya. "Pekan lalu dia pergi ke Hutan Selatan, pakai kuda."

"Kuda?" sahut Yayan tiba-tiba. "Memang orang itu punya uang buat nyewa kuda?"

"Entah. Daripada itu, tahu nggak apa yang Mas Bah jumpai sehabis menerobos Hutan Selatan sampai ke ujungnya?" Pringgo menimpali.

"Nggak. Aku pulang duluan kemarin. Apa emangnya?" kata Yayan.

"Gapura besar."

"Ha?"

"Bukan gapuranya yang janggal. Eh, agak janggal juga, sebab Mas Bah bilang ada huruf-huruf aneh di gapura itu. Tapi, hal yang lebih aneh lagi ada di sebalik gapura itu."

"Apa?"

"Kolam raksasa, Yan!" wajah Pringgo tampak sumringah.

Yayan berusaha membayangkan 'kolam raksasa' yang dikatakan Pringgo. Di kolam itu ada ikan-ikan yang ukurannya jauh lebih besar dari ikan yang dibudidayakan oleh Pak Marta, saudagar ikan yang kaya raya.

"Oh!" Yayan memukul telapak tangannya, tanda dia paham. Di sisi lain, Pringgo memasang wajah kebingungan.

"Itu pasti kolam ikannya para danawa. Masuk akal kalau ukurannya besar." ucap Yayan.

Pringgo mendecakkan lidah, "Halah, danawa lagi." Meski logika Yayan tidak sepenuhnya salah, Pringgo memasang wajah lesu mendengar kesimpulan Yayan.

"Dasar kau ini. Kenapa sinis begitu … Bersyukur kita hidup di desa yang aman, damai, dan sentosa. Kita tancap kayu jadilah singkong. Pohon-pohon di hutan tiap musimnya berbuah lebat. Mata air tak terhitung jumlahnya. Tiap tahun saat ritual kita juga bisa makan daging. Berterimakasihlah pada para sesepuh yang sudah merawat kekayaan alam pemberian Alahatala ini."

Mendengarkan kawannya ngoceh, Pringgo mempercepat langkah kakinya. "Ya, kalau Alahatala mau melenyapkan danawa di seluruh penjuru bumi, kurasa aku mau menyembah-Nya."

Yayan terperanjat dengan muka cengo, ia menyusul Pringgo yang sudah di depan. Rumah-rumah penduduk mulai tampak di kejauhan. "Oi, jangan sampai orang lain, apalagi sesepuh tahu kamu ngomong begitu!"

Pringgo tertawa. "Sudahlah. Ayo buru-buru pulang!"

Malam hari tiba, beberapa macam suara serangga dapat didengar oleh Pringgo yang tengah menyayat sepotong kayu kecil. Kayu itu dibentuk agak meruncing tapi tidak lancip, melainkan tumpul di kedua ujungnya, satu sisi memiliki penampang yang lebih besar dari yang lain.

Di ruang tengah –yang merangkap sebagai dapur, ruang makan, sekaligus ruang berkumpul– di mana Pringgo duduk di salah satu kursinya, ayahnya datang dan mendapati putranya bersama dengan lentera redup di dekatnya.

"Kau sedang apa?" tanya si ayah.

Pringgo tampak sedikit tertegun menyadari kedatangan ayahnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Membuat tusuk rambut, untuk Ani."

"Oh …"

Sugeng, seorang ayah dengan dua orang anak ini merupakan lelaki berbadan kekar. Ia dipercaya menjadi pengawal para sesepuh desa. Sekumpulan orang yang menjadi pengawal tersebut biasa dipanggil "centeng" oleh masyarakat desa. Para centeng bertugas menjaga keamanan dan merawat tempat-tempat penting di desa seperti balai desa, lumbung pangan, persembahyangan, hutan larangan, dan sumber air. Tidak jarang pula mereka dibayar oleh para saudagar untuk menjaga harta kekayaannya.

Sugeng meneguk segelas air putih yang dituangkannya dari teko. "Umurmu sudah tujuh belas tahun 'kan? Mulailah cari calon pendamping hidup. Jangan limpahkan semua kasih sayang itu hanya untuk adikmu."

Pringgo menghela napas, "Oke." ucapnya. "Tapi kapan-kapan lah, Pak. Perempuan itu, selain ibu dan Ani, semuanya nyusahin."

"Ibumu juga sama-sama nyusahin, haha." Sugeng terbahak. Pringgo menanggapinya dengan terkekeh pelan.

Hening kemudian. Sesudah itu, Pringgo mulai menghaluskan tusuk rambut untuk adiknya dengan menggosokkan sebuah batu yang permukannnya rata. Kini, ia mulai mengoleskan semacam minyak ke seluruh bagian tusuk rambut itu.

Adiknya, Ani, akan berusia tiga belas tahun lusa hari. Selama ini, Ani selalu membiarkan rambut panjangnya tergerai, meski kadang dikepang juga. Pringgo pikir akan bagus bila adiknya mengubah gaya rambutnya. Menurut adat, perempuan yang belum menikah tidak boleh mengikat rambutnya, jadi Pringgo tidak bisa memberikan hadiah berupa ikat rambut kepadanya. Makanya, Pringgo kira tidak masalah jika itu tusuk rambut.

"Sip. Tinggal tunggu kering sampe besok sore." Pringgo merapikan sisa-sisa pekerjaannya.

"Pringgo, kau dengar suara orang menjerit?" tanya Sugeng.

"Ha? Nggak, Pa-"

Samar-samar, di kesunyian malam, dari suatu tempat yang seolah begitu jauh, ada suara teriakan. Suara itu terdengar beberapa kali membuat Pringgo dan Sugeng diam terpaku sebelum akhirnya suara itu lenyap ditelan malam yang gulita.

"Serigala? Atau anjing?" Pringgo bertanya-tanya.

"Bukan. Aku yakin itu suara manusia." kata Sugeng.

Pringgo terhenyak, matanya membelalak. "Ibu dan Ani, di mana mereka?" Pringgo beranjak dengan panik.

"Tenanglah, mereka sudah tidur. Kau jangan keluar rumah." tegas Sugeng. "Kau sudah mengerti apa yang barusan terjadi, bukan?"

Pringgo mengangguk.

"Pergilah ke kamarmu. Aku akan tidur nanti setelah memastikan semuanya aman." Sugeng mengambil lentera dan pergi ke pintu depan, berjaga dari dalam rumah.

"Ya." Pringgo mengangguk, memasang wajah percaya kepada ayahnya, lalu ia pun pergi ke kamarnya.

Sugeng memutar knop lentera untuk meredupkan cahayanya. Ia duduk di balik pintu depan. Sebuah parang tergeletak di sampingnya. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu yang menjadi perbatasan antara luar dan dalam rumah.

"Tahun ini, ada tumbalnya ya …" gumam Sugeng.

Di kamarnya, Pringgo berbaring telentang. Air mukanya menunjukkan keseriusan. Ia sedang memikirkan sesuatu.

"Apa-apaan itu sebenarnya!" Pringgo tampak marah. Giginya berderit. Ia menaikkan kain selimut dan memejamkan matanya, berusaha tidur.

"Sialan!"

Ritual Nyawiji. Ritual tahunan di Desa Samijagad. Orang-orang berkumpul untuk berdoa, menyatukan jiwa, menyucikannya, dan mempersembahkannya kepada Yang Maha Esa, Alahatala. Mungkin tidak terjadi setiap tahun. Tetapi, di tahun-tahun tertentu, akan ada peristiwa di mana salah seorang dari desa itu akan menjadi tumbal yang dikorbankan. Malam sebelum hari ritual, kau akan mendengarkan lolongan anjing yang sebenarnya adalah jeritan manusia. Di malam itu, konon si tumbal yang entah bagaimana ia bisa terpilih, tengah dilahap oleh kaki tangan Yang Kuasa. Tahun di mana adanya peristiwa tumbal menjadi pertaruhan bagi desa tersebut. Apakah mereka akan memperoleh berkah yang melimpah atau bencana yang pedih.

(Bersambung)

--

--

Language and tech junkies, sometimes review somethings.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Arya Rahmadi

Arya Rahmadi

Language and tech junkies, sometimes review somethings.